Dari Lagu ke Logika: Tim P2M Dosen dan Mahasiswa UNJ Sulap Lagu Daerah Jadi Media Edukasi

Tim P2M bersama guru-guru


INDRAMAYU – Tim dosen dan mahasiswa Universitas Negeri Jakarta menggelar program Pengabdian Kepada Masyarakat (P2M) bertajuk Dari Lagu ke Logika: Resep Mudah Menghafal Materi Pelajaran melalui Lagu Daerah (27--29/7/26). 

Mengajarkan materi pelajaran yang sarat dengan hafalan kepada siswa sekolah dasar kerap menjadi tantangan tersendiri bagi para guru. Di satu sisi, anak-anak usia dini memiliki daya tangkap yang tinggi terhadap hal-hal yang bersifat visual dan auditori. Namun, di sisi lain, metode ceramah dan papan tulis sering kali membuat mereka cepat bosan dan sulit berkonsentrasi. Menjawab kebutuhan akan inovasi pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan, tim dosen dan mahasiswa Universitas Negeri Jakarta menggelar program Pengabdian Kepada Masyarakat (P2M) bertajuk Dari Lagu ke Logika: Resep Mudah Menghafal Materi Pelajaran melalui Lagu Daerah.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, yakni 27--29 Juli 2026, bertempat di Balai Desa Bulak, Kec Jatibarang, Kab Indramayu, Jawa Barat. Puluhan guru Sekolah Dasar (SD) dari tiga sekolah di desa tersebut, seperti SDN 01 Bulak, SDN 02 Bulak, dan SDN 03 Bulak turut hadir sebagai peserta utama. Mereka didampingi oleh Kepala Satuan Pendidikan setempat yang memberikan dukungan penuh terhadap terselenggaranya program ini.

Menggubah Lirik, Menjaga Irama, Menanamkan Ilmu

Konsep yang ditawarkan dalam pengabdian ini terbilang sederhana dan sarat makna. Para peserta diajarkan untuk menggubah lirik lagu-lagu daerah yang sudah akrab di telinga masyarakat Sunda dan Jawa Barat, seperti "Tokecang" dan "Manuk Dadali" dengan materi pelajaran yang dianggap sulit dihafal oleh siswa. Materi tersebut mencakup mata pelajaran IPAS, Matematika, Pancasila, IPS, hingga muatan lokal lainnya.


Ketua pelaksana kegiatan, Nisa Rahma Puspita, M.Pd. menjelaskan bahwa lagu daerah dipilih sebagai media karena memiliki irama yang kuat dan mudah diingat. 

"Anak-anak SD hidup dalam dunia yang penuh dengan nyanyian dan permainan. Jika kita bisa memasukkan unsur pendidikan ke dalam media yang mereka sukai, maka proses belajar akan terasa seperti bermain. Dari sanalah logika dan pemahaman akan terbangun secara alami," ujar Nisa saat ditemui di sela-sela sesi pelatihan hari kedua.

Langkah-langkah praktis yang diajarkan kepada para guru pun disusun secara sistematis. Pertama, peserta dilatih untuk menentukan kata kunci dari setiap pokok bahasan pelajaran. Kedua, kata-kata kunci tersebut kemudian disesuaikan dengan jumlah suku kata pada lirik lagu asli agar ritme dan nada tidak berubah. Ketiga, peserta didorong untuk menggunakan kata-kata sederhana dan akrab dengan keseharian anak-anak, sehingga pesan lebih mudah dicerna. Keempat, mereka diajarkan untuk menambahkan kata seru atau pengulangan pada bagian-bagian tertentu guna memperkuat daya ingat siswa. Terakhir, metode ini direkomendasikan untuk diterapkan terlebih dahulu dalam kelompok kecil di dalam kelas sebelum dipraktikkan secara menyeluruh.


Antusiasme Peserta dan Sesi Praktik Langsung

Suasana pelatihan selama tiga hari terpantau sangat hidup dan penuh tawa. Para guru tak hanya duduk mendengarkan paparan teori, tetapi juga langsung mempraktikkan cara menggubah lirik. Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok kecil, lalu berlomba-lomba menciptakan lirik baru dari lagu Tokecang yang bertemakan perkalian dasar, serta mengubah syair Manuk Dadali menjadi nyanyian tentang nilai-nilai Pancasila dan keragaman budaya Indonesia.

"Saya kaget ternyata menyenangkan. Selama ini saya hanya mengandalkan hafalan verbal dan tulisan di papan tulis. Setelah mencoba metode ini, saya jadi membayangkan bagaimana anak-anak akan lebih bersemangat saat pelajaran IPA atau Matematika," ungkap seorang guru dari SDN 02 Bulak dengan antusias. 

Kegiatan ini tak hanya digawangi oleh Nisa sebagai ketua, tetapi juga melibatkan dua anggota dosen lainnya, yakni Egidius Bagas Pinasthiko Aji, M.Pd. dan Selamat Triadil Saragih, S.Pd., M.Sn. , yang keduanya memiliki latar belakang di bidang pendidikan dan seni. Dua mahasiswa, Alita Afifah Putri dan Miranda Renata, turut ambil bagian dalam mendampingi para peserta selama sesi praktik dan diskusi kelompok. Kehadiran mahasiswa ini diharapkan dapat menjadi jembatan antara pendekatan akademis dan kebutuhan praktis di lapangan.

Keamanan Hak Cipta dan Etika Bermusik

Di tengah euforia kreativitas, tim pemateri juga mengingatkan satu hal penting dalam sebuah karya, yakni aspek perlindungan hak cipta. Mereka menekankan bahwa lagu-lagu daerah yang telah dimodifikasi liriknya hanya diperbolehkan untuk digunakan dalam kepentingan pembelajaran di lingkungan sekolah dan tidak untuk tujuan komersial.

"Kami sangat mengapresiasi semangat para guru dalam berkarya. Namun, kami juga ingin mereka sadar bahwa lagu daerah adalah warisan budaya yang dilindungi undang-undang. Untuk itu, kami sarankan agar hasil gubahan ini digunakan sebatas di dalam kelas, bukan untuk dijual atau dipublikasikan secara luas tanpa izin," jelas Egidius Bagas dalam sesi penutupan.

Pernyataan ini disambut positif oleh para peserta. Mereka memahami bahwa selain mengajarkan ilmu, pendekatan ini juga membawa misi pelestarian budaya dan penghormatan terhadap hak kekayaan intelektual.


Harapan untuk Keberlanjutan

Program P2M yang berlangsung di Desa Bulak ini tidak hanya berhenti sebagai kegiatan seremonial tiga hari. Para peserta didorong untuk terus mengembangkan metode serupa dengan menggali lebih banyak lagu daerah lain yang ada di wilayah masing-masing. Selain itu, mereka juga diharapkan dapat saling berbagi hasil gubahan lirik dengan rekan-rekan guru di sekolah lain, sehingga dampaknya dapat meluas.

"Kami berharap kegiatan ini menjadi titik awal gerakan pembelajaran kreatif di Indramayu. Bukan hanya untuk menghafal, tetapi untuk membangun logika dan kecintaan anak terhadap budaya sendiri. Jika guru-guru di sini sudah terbiasa, maka generasi penerus kita akan tumbuh dengan cara belajar yang lebih manusiawi dan menyenangkan," tutup Nisa Rahma Puspita dengan penuh harap.

Akhir acara ditandai dengan penyerahan sertifikat kepada seluruh peserta dan sesi foto bersama sebagai kenang-kenangan. Dengan berakhirnya program ini, semangat baru untuk menghidupkan ruang kelas melalui irama lagu daerah pun resmi melangkah ke depan, menanti praktik nyata di setiap sudut sekolah dasar di Desa Bulak dan sekitarnya. (Saf) 

Post a Comment for "Dari Lagu ke Logika: Tim P2M Dosen dan Mahasiswa UNJ Sulap Lagu Daerah Jadi Media Edukasi"