Jadi Guru Adaptif di Era Digital Learning Culture, Siapa Takut?



Halo, Teman-teman!

Tak terasa, kita sudah hampir di penghujung tahun 2022, ya. Nah, November ini kita memperingati beberapa Hari Besar Nasional, salah satunya yaitu Hari Guru Nasional yang diperingati setiap tanggal 25 November. Berbicara tentang Hari Guru, kalian mungkin sudah tak asing lagi dengan kalimat di bawah ini.

Semua orang adalah guru, semua tempat adalah sekolah.

Kalau diperhatikan betul-betul, saya kira kalimat di atas sangat sesuai dengan apa yang kita alami saat pandemi Covid-19. Kita tahu bersama, salah satu bidang yang paling terkena dampak pandemi ialah pendidikan. Akibatnya, sejak tahun 2019 sampai 2021 akhir, sistem belajar siswa berganti menjadi daring (online). Berkat situasi inilah, orang tua, nenek-kakek, dan kakak merangkap jadi guru privat. Tempat belajar juga jadi lebih fleksibel, bisa di kamar, ruang tamu, dapur, bahkan di dalam kendaraan.

Syukurlah, lambat laun pandemi Covid-19 mulai membaik. Kondisi pendidikan kita juga mulai pulih. Sekitar pertengahan tahun 2021, pemerintah sudah mengizinkan pembelajaran tatap muka terbatas di sekolah (detik.com, 10/8/2021). Hikmah terindah yang perlu kita syukuri yaitu pandemi mengajarkan kita untuk adaptasi dengan kondisi yang ada. Di mulai sejak maraknya virus Corona, kita “dipaksa” untuk memasuki era digital learning culture. Menurut laman lmshero.com, digital learning culture ialah bentuk budaya pembelajaran yang melibatkan penggunaan media elektronik. Jadi, semua siswa, guru, orang tua, dan elemen pendidikan harus mengerahkan gairahnya untuk belajar teknologi demi bertahan di situasi kritis. Sungguh perjuangan yang tak mudah, apalagi untuk guru-guru yang sudah lanjut usia.

Realitas Adaptasi Guru di Masa Pandemi

Peringatan Hari Guru yang jatuh pada 25 November masuk ke dalam Hari Besar Nasional. Jadi, izinkan saya mengungkapkan rasa kekaguman kepada guru-guru. Saya sering lihat balada para guru demi beradaptasi dengan situasi pandemi. Saat 2020 lalu misalnya, saya mengikuti kegiatan magang di salah satu sekolah di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Di sana, saya melihat kenyataan bahwa tidak semua guru familier dengan Google Classroom dan Google Formulir. Jadi, diadakan pelatihan untuk guru-guru supaya bisa menguasai cara pakai kedua aplikasi itu.

Beranjak ke tahun 2021, saya pernah juga mengikuti kegiatan Kampus Mengajar yang diadakan Kemendikbud Ristek. Saya dapati pengalaman mengajar selama 3,5 bulan di SD Wonolagi yang berada di pelosok Gunungkidul. Ternyata, di situasi serba terbatas/sedang puncak-puncaknya pandemi, guru ditantang untuk mencipta strategi agar kegiatan belajar tetap jalan. Karena minim sinyal, apalagi tidak ada yang punya WiFi rumah, guru di sana tak bisa jika hanya memanfaatkan gawai. Jadi, guru mendatangi rumah-rumah siswa untuk memantau perkembangan belajar para siswa. Sesekali mereka masuk sekolah untuk diberikan oleh-oleh tugas dan dikerjakan di rumah, lalu dikumpulkan kembali di sekolah sembari dievaluasi oleh gurunya. Harapannya, tentu pemerintah bisa meluaskan akses sinyal ke daerah-daerah pelosok sehingga pemasangan WiFi sekolah/WiFi rumah bisa lebih mudah.

Jadi Guru Adaptif di Era Digital Learning Culture

Berkah pandemi buat kita semua jadi belajar adaptasi. Kita telah memasuki era digital learning culture yang penuh kejutan dan peluang. Kegiatan pembelajaran jadi lebih praktis dan menarik berkat keterlibatan teknologi dan fasilitas digital. Nah, jika kalian berprofesi guru atau teman kalian ada yang menjadi guru, berikut ini ada beberapa tips menjadi guru adaptif di era digital learning culture.

· Beri akses siswa untuk menggali banyak informasi

Berkat pandemi, internet selalu dimanfaatkan untuk mendukung proses pembelajaran. Nah, guru bisa memberikan kesempatan siswa agar menggunakan internet untuk mencari sumber belajar. Jika dulu sumber belajar hanya dari buku-buku perpustakaan, saat ini sudah ada internet yang menyediakan milyaran informasi. Contoh sumber belajar yang disediakan oleh Kemendikbud ada di laman https://sumber.belajar.kemdikbud.go.id/. Laman ini menyediakan banyak materi pembelajaran yang dikemas menarik dan tersedia dari jenjang PAUD sampai SMK. Jika kalian bukan guru, kalian tetap bisa mengakses laman tersebut, kok. Lumayan ya, kalian bisa pakai untuk mengajari adik/ponakan belajar.

· Pupuk rasa ingin tahu untuk kuasai aplikasi pendukung pembelajaran online

Semangat mempelajari hal baru adalah kunci untuk bisa adaptasi dengan kemajuan zaman. Saat ini sudah banyak sekali aplikasi pendukung pembelajaran online gratis yang bisa dimanfaatkan oleh para guru, misalnya saja Google Classroom, Zoom, dan Google Meet. Ada juga Kahoot, Quizizz, Wordwall, Padlet, Prezi, Genially, dan Powtoon yang bisa jadi opsi agar belajar tidak terkesan membosankan.

Untuk memanfaatkan aplikasi pendukung pembelajaran online tersebut, guru tentu memerlukan akses internet. Jika sekolah sudah menyediakan WiFi, guru dapat memanfaatkan fasilitas di sana. Namun, jika ingin mengeksplor aplikasi pembelajaran online di rumah dan belum punya WiFi pribadi, pemasangan WiFi rumah bisa jadi solusi. Nah, IndiHome dari Telkom Group bisa jadi pilihan para guru atau kalian yang ingin pasang WiFi rumah. Tak perlu khawatir kemahalan karena pengguna bisa memilih paket sesuai kebutuhan. Kabar gembiranya, IndiHome mengadakan promo diskon biaya pemasangan 50% plus ekstra 62 channel TV selama 3 bulan! Jadi, mulai 200 ribuan, kalian sudah bisa pasang WiFi rumah serta menjelajah internet dengan koneksi ngebut dan stabil.    


Nah, itulah tips jadi guru adaptif di era digital learning culture. Tips di atas tidak hanya bisa dilakukan oleh para guru saja lho, tapi juga untuk orang tua dan kakak yang ingin turut mendampingi proses belajar anak atau adiknya. Semangat untuk terus memaknai jika semua orang bisa menjadi guru dan semua tempat bisa menjadi sekolah. Semangat menyambut Hari Besar Nasional 25 November! Selamat Hari Guru untuk seluruh pendidik!

 

Sumber pendukung artikel:

Yasmin, P. (21 Agustus 2021). Sekolah Sudah Boleh Laksanakan Belajar Tatap Muka Terbatas, Ini Ketentuannya. https://www.detik.com/edu/sekolah/d-5676799/sekolah-sudah-boleh-laksanakan-belajar-tatap-muka-terbatas-ini-ketentuannya diakses pada 14 November 2022.

Imshero.com. What is Digital Learning? 10 Benefits of Digital Learning. https://lmshero.com/digital-learning/ diakses pada 14 November 2022.

Sumber gambar: 

https://www.medcom.id/pendidikan/news-pendidikan/8Ky5qWzK-guru-asn-di-sekolah-swasta-ditarik-kembali-ke-negeri 

https://www.indihome.co.id/promo/diskon-50-persen-promo-paket-indihome


Post a Comment for "Jadi Guru Adaptif di Era Digital Learning Culture, Siapa Takut? "