Konsep Romantis dari Allah


Nezami Ganjavi menulis kisah masyhur Layla dan Qais yang sangat terkenal karena cerita cintanya menyebabkan Qais gila dan berubah nama jadi Majnun.
Habiburrahman el Shirazy juga menulis novel Ayat-Ayat Cinta yang menjadi mega best-seller berkat alur cerita Fahri dan Aisha yang mengharukan, menyebalkan, dan menggemaskan.
Ternyata, jauh sebelum itu, Allah telah mencanangkan konsep romantis yang terbukti lebih hebat dan luar biasa dibandingkan kisah yang ditulis Nezami atau Habiburrahman.  
Untuk kalian yang beragama Islam, pasti tak asing dengan firman Allah yang berbunyi "Tiap-tiap yang berjiwa akan mati", "Sesungguhnya semua milik Allah dan akan kembali kepada Allah". Kalimat-kalimat tersebut yang membuat saya lebih tenang ketika kehilangan ayah beberapa minggu lalu. Menangis dan meratap pasti saya rasakan pada beberapa hari pertama setelah almarhum pergi. Tiap sudut rumah seakan muncul sosok almarhum yang tersenyum pada saya, anak bungsunya. Namun, sosok itu ternyata maya, jelas tak mungkin nyata. Ini hanyalah halusinasi saya sendiri. 
Lalu, setelah hari demi hari berlalu, saya belajar dari kuatnya ibu dan sayangnya orang-orang terdekat kepada saya. Mereka senantiasa memberikan banyak doa, motivasi, dan hiburan. Baik sekali. Menenangkan sekali. Dari yang mereka sampaikan, saya jadi sadar tentang makna "Tiap-tiap yang berjiwa akan mati" dan "Sesungguhnya semua milik Allah dan akan kembali kepada Allah". Padahal, jika diingat kembali, dua kalimat itu sudah saya ketahui sejak kecil. Ternyata, kedua kalimat itu hanya jadi teori di pikiran saya.
Lalu, bagaimana dengan Konsep Romantis Ciptaan Allah?
Menurut saya, Allah mencipta konsep romantis khusus untuk umat-Nya yang ditinggal oleh orang-orang terkasihnya, terutama antara anak dan orang tua.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do'a anak yang sholeh" (HR. Muslim no. 1631)
Raga memang sudah berpisah, tapi Allah ciptakan konsep romantis ini yang bisa dilakukan oleh anak jika ditinggal orang tuanya. Lagi-lagi, hadis tersebut sering saya anggap teori saja sampai kemarin saya baru merasakan sendiri bagaimana rasanya saat salah satu orang tua telah kembali pada Allah.
Konsep romantis yang dibuat Allah ini membuat saya sangat bersyukur karena masih ada harapan untuk terkoneksi dengan orang tua yang sudah tiada. Tentunya, konsep ini tak berakhir sad ending seperti Layla Qais. Haqqul yaqin, konsep romantis dari Allah ini memberi kesempatan kita sebagai anak untuk tetap terkoneksi, berbakti, dan berbuat baik untuk orang tua sampai kapan pun meski berbeda dimensi alam.  
Mahasuci Allah. Mahabesar Allah. 

Post a Comment

0 Comments